HUKUM MAKAN DAGING KURBAN DAN AQIKAH

ASSALAMU ALAIKUM W.R W.B 
Kali ini blog kami akan menjelaskan Sebagian Hukum tentang makan daging  kurban yg di nadarkan dan yg sunnah  


Ulama dari kalangan Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah dan Hanabilah sepakat bahwa makan dari kurban sunah sangat dianjurkan dan hukumnya sunah. Dalam kitab Alfiqhul Islami disebutkan; fathul muin dan kitab lain nya
Rahmatul ummah hal 85
Dan kitab fiqih lain nya

-refensi  Kitab Asnal Mathoolib Jilid ka 3 Halaman 60:

ﻭﻓﻲ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﻴﺮ ‏) ﺑﻐﻴﺮ ﺇﺫﻧﻪ ‏( ﻭﺟﻬﺎﻥ ‏) : ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﻭﺑﻪ ﺟﺰﻡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﻛﺄﺻﻠﻪ ﻭﻋﺒﺎﺭﺗﻪ ﻭﻻ ﺗﻀﺤﻴﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﻴﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﺇﺫﻧﻪ ﻭﻻ ﻋﻦ ﻣﻴﺖ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻮﺹ ﺑﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ .
ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﻤﺎ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ ﻟﺨﺒﺮ ﻣﺴﻠﻢ } ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺿﺤﻰ ﻋﻦ ﺃﺯﻭﺍﺟﻪ ﺑﺎﻟﺒﻘﺮ { ﻭﺧﺒﺮ ﺃﺣﻤﺪ } ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺿﺤﻰ ﺍﺷﺘﺮﻯ ﻛﺒﺸﻴﻦ ﺳﻤﻴﻨﻴﻦ ﺃﻗﺮﻧﻴﻦ ﺃﻣﻠﺤﻴﻦ ﻓﺈﺫﺍ ﺻﻠﻰ ﻭﺧﻄﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺗﻰ ﺑﺄﺣﺪﻫﻤﺎ ﻭﻫﻮ ﻗﺎﺋﻢ ﻓﻲ ﻣﺼﻼﻩ ﻓﺬﺑﺤﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﺑﺎﻟﻤﺪﻳﺔ ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻫﺬﺍ ﻋﻦ ﺃﻣﺘﻲ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻣﻦ ﺷﻬﺪ ﻟﻚ ﺑﺎﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻭﺷﻬﺪ ﻟﻲ ﺑﺎﻟﺒﻼﻍ ﺛﻢ ﻳﺆﺗﻰ ﺑﺎﻵﺧﺮ ﻓﻴﺬﺑﺤﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻳﻘﻮﻝ : ﻫﺬﺍ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻝ ﻣﺤﻤﺪ ﻓﻴﻄﻌﻤﻬﻤﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﺍﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭﻳﺄﻛﻞ ﻫﻮ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻣﻨﻬﻤﺎ { ، ﻭﻟﻸﻭﻝ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻣﺴﺘﺜﻨﻰ ﺇﺫ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺗﺨﺼﻪ..



Referensi kitab pathulmuin  di kitab I'aanatuth Thoolibiin Jilid 2 Halaman 333:

وَيَحْرُمُ اْلأَكْلُ مِنْ اُضْحِيَةٍ أَوْ هَدْيٍ وَجَبَا بِنَذْرِهِ. (قوله وَيَحْرُمُ اْلأَكْلُ الخ) أَيْ وَيَحْرُمُ أَكْلُ الْمُضَحِّيْ وَالْمُهْدِيْ مِنْ ذَلِكَ فَيَجِبُ عَلَيِهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِهَا حَتَّي قَرْنِهَا وَظِلْفِهَا فَلَوْ أَكَلَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ غَرَمَ بَدَلَهُ لِلْفُقَرَاَء..

Dan kitab fiqih lainnya
وأما الأضحية التطوع: فالمستحب للمضحي بها عن نفسه الأكل منها، أي أن الأفضل له تناول لقم يتبرك بأكلها، لقوله تعالى: فكلوا منها، وأطعموا البائس الفقير [الحج:28/22] وعند البيهقي: أنه صلّى الله عليه وسلم كان يأكل من كبد أضحيته

“Adapun kurban sunnah, maka disunahkan bagi yang berkurban untuk dirinya ikut makan dagingnya, jelasnya bahwa yang paling utama bagi yang berkurban adalah mengambil beberapa suap untuk dimakan dengan mengalap berkah, berdasarkan firman Allah SWT.; ‘Maka makanlah sebagian dari hewan kurban dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir (QS. Al Hajj : 36). Dan menurut Imam AlBaihaqi; “Sesungguhnya Nabi Saw. memakan hati hewan kurbannya”.

Adapun makan daging kurban wajib terjadi perbedaan ulama, sebagaimana telah disinggung di atas. Menurut ulama Syafiiyah,  seluruh bagian kurban wajib harus disedekahkan kepada orang lain, dan orang yang berkurban dan kelurga yang wajib dinafkahi tidak boleh makan sama sekali.

وقال الشافعية : الأضحية الواجبة ـ المنذورة أو المعينة بقوله مثلاً: هذه أضحية أو جعلتها أضحية : لا يجوز الأكل منها، لا المضحي ولا من تلزمه نفقته. ويتصدق بجميعها وجوباً

“Ulama Syafi’iyyah berpendapat; ‘Kurban wajib yang dinazarkan atau ditentukan dengan ucapan seseorang misalnya, ‘hewan ini jadi kurban’ atau ‘aku jadikan hewan ini sebagai kurban,’ maka orang yang berkurban dan orang yang dalam tanggungannya tidak diperbolehkan makan dagingnya, dia wajib menyedekahkan semua dagingnya.”

Begitu juga menurut ulama Hanafiyah, haram makan dari kurban nazar atau wajib. Adapun ulama Malikiyah dan Hanafiyah, membolehkan makan dari kurban wajib atau nazar sebagaimana kurban sunah.

Orang yang berkurban boleh membagi kurban wajib menjadi tiga bagian sebagaimana kurban sunah, sebagian dimakan sendiri dan kelurganya, sebagian disedekahkan dan sebagian yang lain dihadiahkan kepada orang lain.

يجوز الأكل من الأضحية المتطوع بها، أما المنذورة، أو الواجبة بالشراء عند الحنفية فيحرم الأكل منها،…أما عند المالكية والحنابلة فيجوز الأكل من المنذورة كالمتطوع بها. والمستحب أن يجمع المضحي في حالة التطوع، أو في حالة النذر عند المالكية والحنابلة بين الأكل منها، والتصدق، والإهداء

“Dibolehkan memakan daging kurban sunah. Adapun kurban yang dinazarkan atau yang wajib dengan membeli, menurut ulama Hanafiyah, maka haram hukumnya memakan kurban nazar atau wajib tersebut (bagi yang berkurban)…..

Menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, boleh makan dari kurban yang dinazarkan. Dan orang yang berkurban, baik kurban sunah atau nazar, dianjurkan untuk menyatukan antara makan sebagian kurban, bersedekah, dan menghadiahkan kepada orang lain.”

Dengan demikian, menurut ulama Syafiiyah dan Hanafiyah, orang yang berkurban haram dan tidak boleh makan dari hewan kurban wajib, sedangkan menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, orang yang berkurban boleh makan dari kurban wajib sebagaimana boleh makan dari kurban sunah.

Ulama Malikiyah dan Hanabilah mengatakan, sebaiknya hewan kurban wajib dan sunah dibagi tiga; sebagian dimakan, sebagian disedekahkan dan sebagian lagi dihadiahkan kepada orang lain.

HUKUM AQIKAH 

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ فِي الْيَوِم السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى


“Anak digadaikan dengan aqiqahnya yang (idealnya) disembelih dari hari ketujuh (kelahirannya) dan dipotong rambut kepalanya serta diberi nama.”

DOA KETIKA MENCUKUR RAMBUT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah Saw, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.


بخلاف العقيقة فإن نفعها من كون الولد بسببها يشفع لأبيه كما قاله أئمة مجتهدون

“Berbeda dengan aqiqah, maka sesungguhnya kemanfaatan aqiqah menyebabkan anak dapat mensyafaati ayahnya. Seperti yang dikatakan para mujtahid.”

Seorang ayah yang mengaqiqahi anaknya oleh agama distatuskan seperti qurban untuk dirinya sendiri.  Ibnu hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Kubro (juz.4. vol.256) menjelaskan:

لأن الأب مخاطب بها أصالة فهي بالنسبة إليه كضحية نفسه

“Karena sesungguhnya seorang ayah dikhitobi (dibebani) dengan aqiqah (mengaqiqahi anaknya), maka mengaqikahi anak baginya seperti qurban untuk dirinya sendiri.”

Dan satu hal penting bahwa aqiqah hukumnya sama dengan qurban dalam berbagai aspek, sebagaimana fatwa Abu Bakar bin Muhammad Syatho al-Dimyati dalam karyanya I’anah al-Tholibin ( juz 2, vol.560 ):

وهي (العقيقة) قوله (كضحية) اي في معظم الأحكام وهو الجنس، والسن، والسلامة من العيوب والنية والأكل والتصدق والإهداء والتعين بالنذر او بالجعل

“Aqiqah seperti qurban dalam mayoritas hukumnya, meliputi dalam jenis, umur, tidak memiliki aib, niat, memakanya, mensedekahkanya, wajib sebab nadzar atau sebab menjadikanya sebagai kesanggupan”.


Pertama, apabila kategori aqiqah sunah seperti mengaqiqahi anak, maka siapapun boleh memakan daging binatang yang dibuat untuk aqiqah, termasuk ayah dan ibu dari anak tersebut. Seperti halnya hukum dalam qurban sunah. Ibnu hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Kubra menjelaskan:

ومن ثم صرحوا بأنه يجوز له الأكل من العقيقة كما له الأكل من أضحية نفسه

“Dari ketentuan ini (mengaqiqahi anak seperti berqurban untuk dirinya sendiri), maka diperbolehkan baginya (ayah) memakan daging aqikah tersebut seperti halnya diperbolehkan memakan daging qurban dari dirinya sendiri.”

 سن  له أكل من أضحية تطوع ضحى بها عن نفسه

“Disunahkan memakan dari qurban sunah, yang digunakan untuk qurban dari dirinya (Hasyiyah al-Jamal juz.5, vol.257 7)


والتعين بالنذر او بالجعل كأن قال لله علي أن أعق بهذا الشاة او قال جعلت هذه عقيقة عن ولدي فتتعين فى ذلك ولا يجوزحينئذ الأكل منها رأسا

Dan aqiqah yang wajib ( ta’yin ) sebab nadzar maupun kesanggupan, seperti berkata “ Bagi alloh atasku, saya beraqikah dengan kambing ini” atau berkata “ saya jadikan binatang ini sebagai aqikah dari anaku “maka menjadi wajib ( ta’yin ) dan tidak boleh sama sekali memakan Daging binatang aqiqah tersebut.

Dalam Tausyek Ibnu Qosim vol.271 dijelaskan:

 (ولا يأكل المضحى) ولا من تلزمه نفقته (شيئاً من الأضحية المنذورة)

“Dan orang yang berqurban serta orang yang wajib dinafkahi olehnya tidak boleh memakan sedikitpun dari qurban wajib sebab nadzar tersebut”

Ketiga, apabila aqiqah dari seorang yang meninggal dunia berdasarkan wasiyat kepadanya, maka dia (orang yang diwasiati) dan orang-orang kaya dilarang memakan daging aqiqah tersebut, sebagaimana hukum dalam qurban.

Ibnu Hajar al-Haitami dalam karyanya Tuhfah al-Muhtaj ( juz.9, vol.369 ) menjelaskan:

فلو ضحى عن غيره بإذنه كميت أوصى بذلك فليس له ولا لغيره من الأغنياء الأكل منها وبه صرح القفال في الميتة وعلله بأن الأضحية وقعت عنه فلا يحل الأكل منها إلا بإذنه فقد تعذر

“Apabila dia berqurban dari orang lain, seperti halnya mayat yang berwasiyah kepadanya untuk berqurban atas nama dirinya simayat, maka dia (orang yang diwasiati ) dan orang-orang kaya  tidak boleh memakan daging tersebut. Imam Qaffal mengalasi sebab sesungguhnya qurban diperuntukan untuk si mayat maka tidak halal memakan (bagi orang yang diwasiati dan orang kaya) kecuali dengan idzin, dan meminta izdin pasti sebuah udzur (tidak mungkin ).”

والله اعلم 

Kumpulan File kitab tinggal klik 
Apk bisa 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SETIAP MALAM JUMAT & MALAM² TERNTENTU ARWAH AHLI KUBUR MENDATANGI RUMAH DAN KELUARGANYA

KEAGUNAN NISFU SYA'BAN

HADIST DALIL PUASA 9 10 MUHARAM